Now you can Subscribe using RSS

Submit your Email

Selasa, 10 Juli 2012

manajemen emosi dlm RT by @kupinang

Silvia Rahayu
1. Dari sejarah kita belajar, kisah romantis antara Rasulullah saw. dengan istri beliau, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha tak lepas dari >>

2. >> kepekaan Rasulullah saw. mengenal penanda suka & marahnya hati ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha. Diriwayatkan dari‘ Aisyah, ia berkata, >>

3. >> “Rasulullah Saw. berkata kepadaku, ‘Sungguh aku dapat mengetahui kapan engkau sedang suka padaku dan bila engkau lagi marah.”

4. ‘Aisyah brtanya, “Darimana engkau tahu?” Rasulullah Saw brkata, “Bila engkau sdg suka padaku, engkau brkata, “Demi Tuhannya Muhammad.”

5. Dan apabila engkau sedang marah padaku, engkau berkata, “Sungguh, demi Tuhannya Ibrahim.”’

6. ‘Aisyah berkata, “Demi Allah, memang benar ya Rasulallah, yang tidak kusebut hanyalah namamu.” HR. Bukhari & Muslim.

7. Apa yang bisa kita petik dari hadis ini? Kepekaan untuk mengenali penanda emosi istri.

8. Berpijak dari mengenali penanda ini, kita bisa menentukan sikap dg lebih tepat & menahan diri dari perilaku yg bisa memperkeruh.

9. Jadi, bukan justru menyulut emosi. Inilah yg sering sy sebut sbg kedewasaan emosi; kemampuan u/ mengenali, memahami & menerima dg baik.

10. Selanjutnya, mereka bisa belajar untuk saling mengkomunikasikan emosi buruknya dengan cara yang baik.

11. Tidak saling marah, tdk saling memojokkan & tdk saling menyakiti. Emosi buruk bisa berupa rasa kesal, marah maupun rasa tidak suka.

12. Semuanya ini bisa mengganggu hubungan suami & istri. Jika dibiarkan, komunikasi antar kita akan sangat rentan salah paham & pertikaian.

13. Tetapi emosi tsb bisa diungkapkan dengan cara yang nyaman. Kita mengungkapkan perasaan yang sedang kita alami. Bukan meluapkannya.

14. Kita bisa mengatakan,“Maaf, saya lagi marah. Emosi saya lagi nggak bagus.”

15. Atau kita bisa berterusterang, “Mas, saya lagi tersinggung. Maafkan saya, ya… suasana hati saya sedang buruk.”

16. Jika situasinya memungkinkan, suami-istri bisa mengungkapkan emosi setuntas-tuntasnya. Bukan melampiaskan.

17. Kita bicara scr trbuka skaligus berhati-hati, apa yg membuat kita marah atau sakit hati. Tp kita harus mnahan diri u/ tidak mnyalahkan.

18. Kita harus ingat bahwa semarah apapun kita, komunikasi suamiistri bertujuan untuk mencapai titik temu terbaik; >>

19. >> titik temu yang saling memberi kelegaan, perasaan dihargai dan didengar.

20. Sampai di sini, kita masih perlu menahan diri untuk tidak terburuburu mencari jalan keluar atas masalah yang sedang menyelimuti.

21. Ada kecenderungan, dalam situasi seperti ini kita masih belum bisa berpikir secara jernih.

22. Sebaliknya, kita cenderung masih ingin saling memenangkan pendapat dan bahkan saling memojokkan.

23. Kalau kita belum bisa brpikir jernih, sebaik apapun jalan keluar yg diajukan suami/istri, tetap saja sulit kita terima apa adanya.

24. Itu sebabnya, kita perlu menahan diri. Yang paling penting untuk kita raih bersama adalah masing-masing pihak >>

25. >> merasakan adanya iktikad baik, sehingga hati akan mudah menemukan kedamaian & ketenteraman.

26. Kalau sekiranya pasangan kita masih meluapluap emosinya dan bahkan cenderung memuncak, >>

27. >> maka belajar dari Rasulullah saw. kita perlu menahan diri sejenak. Biarlah emosinya reda. Jangan menyalahkan. Jangan pula menuntut.

28. Bahkan andaikan kesalahan itu jelas ada padanya, tahan diri sejenak. Bukankah ketika ‘Aisyah sedang cemburu >>

29. >> dan bahkan sebegitu cemburunya sampai memecahkan mangkok, Rasulullah saw. tidak sibuk menasehatinya?

30. Barulah setelah reda, Rasulullah saw. mengingatkan untuk mengganti mangkok orang yang sudah dipecahkan.

31. Di saat emosi masih meluapluap, boleh jadi obat paling tepat u/ mnahan emosi agar tak smakin menghebat adlh kesediaan u/ mndengar.

32. Kita ikhlaskan diri untuk mendengar luapan emosinya tanpa berkomentar. Kita terima apa adanya tanpa menyalahkan.

33. Kalaupun ada yg salah, kita bisa meluruskannya. Bukan mnyalahkan. Itu pun harus menunggu hingga scr emosi keadaannya jadi lebih baik.

34. Kalau emosi sdh reda, masing-masing sdh saling tahu apa yg tak mengenakkan hati, kita bisa merencakan waktu yg tepat u/ membicarakan.

35. Barangkali memilih waktu yang tepat sama pentingnya dengan menemukan jalan keluar yang baik.

36. Membicarakan masalah ktk suami baru saja trjaga dari tidur misalnya, mrpkn waktu yg rawan salah-paham & mudah menimbulkan letupan emosi.

37. Bicarakanlah masalah yg ada dg santai. Diskusikanlah apa yg sebaiknya kita lakukan dg tenang dan dari hati ke hati.

38. Bukan apa yang kemarin seharusnya tidak dilakukan. Sebab ini hanya akan menambah api kemarahan. Wallahua’lambishawab.

39, Sungguh, bukan beda suku yang menyebabkan hati mudah rusuh; bukan beda bangsa yang menjadikan kita mudah kecewa. Bukan.

40. Tapi kokohnya iman dan kedewasaan emosi yg sangat berperan. Beda suku bukan alasan u/ mengatakannya tidak sekufu. Sama sekali bukan.

Silvia Rahayu / Tukang Nulisnya

Blogger kambuhan yang menulis di saat kepengen dan ada waktu, masih labil sama konten tapi ttp bertahan sebagai blogger meski tak pernah blogwalking :p.

0 comments:

Posting Komentar

Coprights @ 2016, Blogger Templates Designed By Templateism | Templatelib