4 tahun kebersamaan

[caption id="" align="alignleft" width="240" caption="Rafiq dari tahun ke tahun"]image[/caption]

Oktober ini tepat 4 tahun saya di temani teman sejati yg super duper kiyut, my handsome and beloved mas Rafiq, sesuai namanya yang berarti sahabat, Rafiq bener bener jadi temen saya (ibunya) sehari hari, temen jalan jalan, temen buat di peluk saat lagi galau, temen becanda saat pengen ketawa,  temen yang bantuin saya jagain adik2nya yg masih kecil (padahal mas rafiq juga masih kecil :D), sampai ke temen buat selfie hihi.

Masih inget ketika orang-orang tau saya lagi hamil ke 2 (Rafiq) ada komentar komentar yang menyayangkan, mengingat anak pertama kami masih berusia 4 bulan dan memang dalam kondisi kurang sehat. Tapi selalu ada hikmah di setiap apa yang terjadi dan yang telah di gariskan oleh Allah. Dan selama kehamilan Rafiq saya punya harapan agar bayi dalam kandungan saya ini menjadi sahabat untuk kakaknya yang berkebutuhan khusus dan menjadi pelindung kakaknya makanya kamipun menamainya Rafiq.

[caption id="attachment_519" align="alignright" width="150"]Ibu dan Rafiq Ibu dan Rafiq[/caption]

Qadarullah, 2 bulan menjelang kelahiran Rafiq, kakaknya rafiq (mas Royyan) meninggal dunia. Rafiq seolah menjadi matahari kedua dalam hidup kami, Maka nikmat ALLAH yang manakah yang kau dustakan ? mungkin sangatlah nyata untuk kami terutama saya saat itu, bagaimana tidak, suatu hari kami mengantarkan bayi kami yang hampir 1 tahun (kurang 11 hari saja) dari rumah keluar menuju pemakaman lalu 2 bulan kemudian kami kembali ke rumah membawa seorang bayi mungil lucu yang lain, bayi yang menjadi teman ibunya mengisi hari hari yang terkadang masih terasa berat ketika teringat kakaknya.

Rafiq saat bayi sangat menggemaskan, memberikan kebahagiaan tak terkira untuk saya yg saat anak pertama super gagal asi namun saat Rafiq ASI saya sampai melimpat ruah, bahkan saat mandi kemudian Rafiq menangis di luar itu ASI mancur tanpa saya sadari. Rafiq, menemani saya setiap harinya di saat suami sibuk bekerja mencari nafkah. Mulai dari sejak bangun tidur sampai tidur lagi Rafiq selalu bersama saya, ga pernah terpisah, sekalinya jauh sama Rafiq ya pada saat ibunya mau lahiran adeknya mas Raihan :).

Standarnya dalam hidup adalah semua yang serba dua alias ada pagi ada malam, ada putih ada gelap maka membesarkan Rafiq pun begitu juga ga cuma ada cerita senangnya tapi ada cerita susahnya (hihiy susah kata saya :p ), ketika susah makan, ketika sakit, ketika mulai suka tantrum, ketika Rafiq musti semuanyaaaa sama ibu, ketika Toilet training, ketika GTM dan lain sebagainya yang ga jarang bikin saya esmosi sampai menangis nangis. Tapi seiring waktu semua cerita susah itu menjadi cerita seru ketika saya mengingat lagi saat dia sudah besar ini :D.

[caption id="attachment_518" align="alignleft" width="210"]sleeping pose2 Rafiq & Raihan sleeping poses[/caption]

Hee sudah besar?? wong baru 4 tahun hehe.. memang secara angka Rafiq memang baru 4 tahun, tapi buat saya Rafiq sudah semakin besar di mata saya. umur 2 tahun kurang 2 bulan Rafiq mendapatkan adik pertamanya, awalnya khawatir bagaimana respon Rafiq sama adiknya nanti, ternyata Rafiq woles, malah dia seneng adek sampai DSOG saya saat itu heran, kok mas nya anteng aja ada adek baru, biasanya kakak suka jadi cemburuan dlsb, tapi Rafiq engga, malah dia seneng bantuin saya ambilin celana adek, bisa di mintain tolong temenin adek, ajak maen adek dan yang paling touchy nya dia lebih seneng bobo meluk adek daripada meluk ibu :D.

Lalu saat usianya 3 tahun 7 bulan Rafiq mendapatkan lagi adek ke 2, sekarang dia berpindah yang asalnya sayang adek Raihan, bobo musti deket adek Raihan sekarang musti deket adek Reva, hihihi adek Raihan bergeser jadi adek buat temen maen, temen ribut, sparing partner klo main gelut gelutan :D.

Rafiq memang belum bisa bobo sendiri di kamar sendiri karena sayapun memang lebih seneng bergerombol sama anak2, lagian biarlah nanti besok besok dia sendiri yang ga mau di peluk  ibunya secara anak lanang. Tapi di sisi yang lain Rafiq berani sekolah sendiri, hari masuk sekolah TK pun saya ga nungguin Rafiq, umur 3 tahun kurang maen ke paud pun dia g nyari ibunya. Rafiq berani ngomong dan minta balon sama mbak mbak di restoran tempat kami makan, g jarang dia bayar sendiri apa yang dia pengen. Dan kadang dia suka melesat maju jalan sendiri jauh di depan saya saat kami jalan jalan sore, sementara buenya di belakang yang ketar ketir khawatir tiba tiba ada orang asing loncat ngambil anak kesayangannya #tutupMata #tepokjidat.

4 tahun kebersamaan dengan Rafiq, setiap hari meliat wajahnya Rafiq semakin saya bersyukur betapa besarnya nikmat saya menjadi ibunya Rafiq, anak yang romantis klo kata saya. suatu malam menjelang tidur kami pernah membicarakan tentang mati lalu Rafiq tiba tiba berkata

"Rafiq ga mau ibu mati", lalu dia pegang tenggorokannya dan dengan mata mulai berkaca kaca dia melanjutkan "kok Rafiq kayak mau nangis yah ?", hiks.. berpelukaaan.

atau saat semalam, ketika ibunya tantrum ngambeuk gara gara udah di bacain buku rafiqnya malah loncat2an, lalu di bacain hapalan surat pendek Rafiq ga ngikutin, ibunya pundung. Lalu Rafiq yang nyadar ibunya pundung jadi nangis dan meluk "maafin rafiq, Rafiq sayang ibu, rafiq mau baca buku sama ibu, mau belajar sama ibu" hiks lagi deh.

saat yang lain, ketika saya memakai baju baru atau lagi iseng mencoba alat kecantikan baru, maka Rafiq akan berkomentar "Ibu cantik', atau "ibu lucu", lalu meluk ibunya, aah anak ibu yang ini memang perhatian sama ibunya, alhamdulillah.

[caption id="attachment_517" align="alignright" width="280"]rafiq Rafiq[/caption]

Ada masanya saya desperate ketika milestone bicara Rafiq super telat, orang orang mulai berkomentar ibunya nih jarang ngajak ngomong, ibunya nih maen hape mulu, di ajak nyanyi dong , dan lain sebagainya. Padahal manalah mereka tau klo apapun yang saya kerjakan saya sambil ngomong sama Rafiq, di  mobil saat jalan jalan saya berasa penyiar radio ngomong terus atau ngajak rafiq nyanyi, tiap mau tidur terkadang sampai beberapa buku saya bacakan buat Rafiq, tapi tetep Rafiq kena speech delay, hingga satu saat sebelum umur 3 tahun Rafiq tiba tiba lancar bicara. Sekarang Rafiq sudah pintar ngomong, sudah bisa menjelaskan metamorfosis katak, sudah bisa nyalahin ibunya klo ibunya salah ngomong, udah pinter ngerayu seperti "buuu.. Rafiq minjem tab nya yah, g maen kok cuma belajar pasang puzzle" :D. udah bisa juga ngingetin ibunya "ibuuu, anak kecil itu g tau apa apa jadi jangan suka dimarahin ", #jleb kan di bilangin gitu sama anak umur 4 tahun :'(.

Menjadi ibu itu sungguh anugrah yang tak terkira, dan ini saya baru hanya cerita sekilas tentang 1 dari 4 anak saya, dan setiap anak itu memiliki keistimewaan dan ceritanya sendiri sendiri. Dan yang saya rasanya, jadi ibu memang proses belajar seumur hidup, oke anak saya ada 4, tapi tetep setiap anak bertambah saya tetap musti belajar lagi, mengapgrade diri lagi, klo tahun lalu belajar jadi ibu untuk 2 batita, tahun ini belajar untuk menjadi ibu untuk 3 balita. Tapi yang pasti seberat beratnya tugas ibu semua menjadi terasa ringan saat kita melihat senyum anak anak kita, melihat mereka semakin besar, semakin pintar, semakin cakep aaaah .. #mewek.

Mas Rafiiiiq.. ibu padamuuuuu :*
[caption id="" align="aligncenter" width="290" caption="Rafiq - Raihan - Reva"]image[/caption]


 

Tulisan ini diikutsertakan dalam GA Every Mom Has A Story #stopmomwar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar