Catatan Kajian Ramadhan Bersama Al-Fatih #3 (Siroh dalam Al-Quran)

✏ Catatan Kajian Ramadhan Bersama Al-Fatih #3 (Siroh dalam Al-Quran)
👤 Ust. Budi Ashari, Lc.
📗 Yusuf, Kisah Terbaik untuk Umat Muhammad
📆 4 Ramadhan 1436/20 Juni 2015

image



Al-Quran ialah kitab yang isinya sejarah, namun berbeda dengan buku sejarah. Dalam Al-Quran, sejarah yang disajikan ialah sejarah yang akan menjadi panduan.

Salah satu kisah yang diabadikan dalam Al-Quran ialah kisah Nabi Yusuf. Kisah Nabi Yusuf ini disajikan lengkap dalam satu surat utuh yang juga dinamakan surat Yusuf.

Rasulullah banyak mengambil ibroh dari kisah Yusuf. Aisyah juga mengambil ibroh dari kisah Nabi Yusuf saat hadits ifki menimpanya.
Saat Fathu Makkah pun, Nabi berkata pada para pembesar Quraisy. Nabi mengumpulkan mereka dan bertanya, "Apa yang kira-kira akan kulakukan pada kalian?" Para pembesar ini berkata, "Engkaulah saudara kami yang mulia, anak dari saudara kami yang mulia." Rasulullah membalas, "Hari ini aku akan berkata sebagaimana perkataan Yusuf pada saudaranya: Sudah tidak ada lagi kesalahan kalian. Pergilah, kalian semua kubebaskan."

Inilah akhlak mulia para Nabi. Mampu memaafkan di saat keadaan sangat mudah untuk membalas.

Berhati-hatilah dalam berinteraksi dengan saudara. Bisa jadi, saat kita menorehkan luka pada saudara kita, nanti suatu saat justru kita yang akan mengiba belas kasih saudara kita itu.

Kisah dijadikan sebagai ibroh agar kita dapat terhubung dengan Nabi-nabi sebelumnya. Kisah inilah yang menjadi jembatan penghubung antara kita dengan mereka.

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya. (Yusuf: 2)

Awalan surat ini menjadi mukadimah yang luar biasa dalam kisah Yusuf. Al-Quran diturunkan dalam bahasa Arab agar kalian berakal. Maksud berakal di sini ialah berilmu. Mengapa harus bahasa Arab?

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa hal ini karena bahasa Arab ialah bahasa yang paling fasih, yang paling jelas, dan paling luas. Bahasa Arab ialah bahasa yang paling mampu mengungkapkan makna yang diinginkan dalam jiwa. Karenanya, inilah kitab paling mulia yang diturunkan oleh Allah dengan bahasa paling mulia, diturunkan pada Rasul yang paling mulia, oleh malaikat yang paling mulia, dan di bulan yang paling mulia.

نَحْنُ نَقُصُّ عَلَيْكَ أَحْسَنَ الْقَصَصِ بِمَا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ هَٰذَا الْقُرْآنَ وَإِنْ كُنْتَ مِنْ قَبْلِهِ لَمِنَ الْغَافِلِينَ

Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Quran ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan)nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui. (Yusuf: 3)

Ahsanal Qasash artinya kisah terbaik. Seluruh kisah dalam Al-Quran ialah kisah terbaik, namun dalam surat Yusuf ini ada pengkhususan.
Ada beberapa cara bertutur Allah, dua di antaranya ialah:
1. Kisah yang kronologis, dimulai dari kecil hingga dewasa, misalnya kisah Nabi Yusuf.
2. Kisah yang disebar dalam beberapa surat, ibarat puzzle, misalnya kisah Nabi Musa.

Saat itu, kisah Nabi Yusuf tidak diketahui sebelumnya oleh masyarakat Quraisy mau pun Yahudi. Oleh karena itu, Yahudi berkomplot dengan Quraisy untuk menanyakan kisah Nabi Yusuf pada Rasulullah.

Allah pun menurunkan kisah Yusuf. Kisah ini bukan hanya sebagai jawaban atas pertanyaan orang kafir, namun juga menjadi jawaban atas kondisi umat Islam. Surat Yusuf ini turun di masa Amul Huzni, tahun kesedihan di tahun 10 kenabian. Dan begitulah sejarah, ia mampu menjawab segala hal yang menjadi permasalahan zaman.

إِذْ قَالَ يُوسُفُ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ إِنِّي رَأَيْتُ أَحَدَ عَشَرَ كَوْكَبًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ رَأَيْتُهُمْ لِي سَاجِدِينَ

(Ingatlah), ketika Yusuf berkata kepada ayahnya: "Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku." (Yusuf: 4)

Kisah Yusuf dalam Al-Quran dimulai dengan dialog mengenai mimpi Nabi Yusuf bahwa 11 matahari, bintang, dan bulan bersujud kepadanya. Menariknya, keseluruhan kisah Yusuf ini diawali dengan mimpi Nabi Yusuf, di tengahnya ada mimpi (mimpi dua orang yang dipenjara bersama Yusuf), dan di akhirnya pun ada mimpi (mimpi penguasa Mesir).

Penakwilan Nabi Yusuf atas mimpi penguasa Mesir inilah yang menjadi penyebab dibebaskannya Nabi Yusuf dari penjara. Dan akhir kisah Nabi Yusuf merupakan takwil atas mimpi Nabi Yusuf.

Mimpi adalah hal yang penting dan mulia jika mampu didalami oleh ahli ilmu. Nabi bersabda bahwa tidak ada yang tersisa dari kenabian melainkan mubasyirat (kabar gembira) yang didapatkan dari mimpi.

Akhir kisah Nabi Yusuf menjadi takwil atas mimpi Nabi Yusuf yang di awal.
Bintang: saudaranya
Matahari: ayahnya
Bulan: ada yang berpendapat ibunya.

Salah satu pelajaran dari mimpi ini, laki-laki diibaratkan matahari, perempuan diibaratkan dengan rembulan.

قَالَ يَا بُنَيَّ لَا تَقْصُصْ رُؤْيَاكَ عَلَىٰ إِخْوَتِكَ فَيَكِيدُوا لَكَ كَيْدًا ۖ إِنَّ الشَّيْطَانَ لِلْإِنْسَانِ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Ayahnya berkata: "Hai anakku, janganlah kamu ceritakan mimpimu itu kepada saudara-saudaramu, maka mereka membuat makar (untuk membinasakan)mu. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia." (Yusuf: 5)

Nabi Yakub berpesan agar jangan sampai Nabi Yusuf menceritakan mimpi ini kepada saudaranya, karena nanti mereka akan membuat makar. Nabi Yakub juga mengajari bahwa setan itu musuhnya manusia.

Ternyata, meskipun tidak diceritakan pada saudaranya, saudara Nabi Yusuf tetap membuat makar pada Nabi Yusuf, yaitu dengan membuang Nabi Yusuf ke dalam sumur.

Nabi Yakub pun bertahan selama 80 tahun dalam keyakinan bahwa Nabi Yusuf masih hidup. Keyakinan ini didapatkan dari penakwilan atas mimpi Nabi Yusuf.

Beberapa pelajaran dari kisah Nabi Yusuf:

1. Pentingnya pendidikan anak di usia dini. Nabi Yakub dan Yusuf berpisah selama 80 tahun, namun Nabi Yusuf terus mengingat pendidikan yang dilakukan oleh ayahnya ketika Nabi Yusuf masih kecil.

2. Bertanya adalah kunci kebesaran ilmu. Ibnu Abbas dikaruniai Allah hati yang berakal dan lisan yang mau bertanya.

3. Penting sekali untuk berlaku adil pada anak-anak kita. Saudara Nabi Yusuf ingin membunuh Nabi Yusuf diakibatkan sifat hasad, meskipun pada akhirnya tidak jadi dibunuh, tapi hanya dibuang ke sumur. Saudara Nabi Yusuf merasa bahwa bapaknya lebih mencintai Yusuf dan Bunyamin. Hasad ialah dosa pertama di langit dan di bumi. Bahkan hasad di antara saudara dapat menyebabkan pembunuhan.

4. Balaslah kebaikan dengan kebaikan. Inilah akhlak para Nabi.
Dalam sabdanya, Nabi menyuruh kita membalas kebaikan dengan kebaikan. Dan jika tidak mampu, balaslah dengan mendoakannya.

5. Untuk membahasakan tipu daya, Allah menyebutkan bahwa tipu daya setan ialah lemah, sedangkan tipu daya wanita besar.
Hal ini bukanlah bermaksud merendahkan wanita, namun menjadi peringatan bagi para laki-laki dan wanita.
Tipu daya istri penguasa Mesir:
-Memfitnah Nabi Yusuf, padahal dirinya yang menggoda Nabi Yusuf
-Mengundang para wanita yang menggosipkan dirinya dengan Nabi Yusuf
Mengapa Penguasa Mesir ini tidak terlalu marah dengan kelakuan istrinya? Menurut Ibnu Katsir ada dua kemungkinan:
1. Penguasa ini berhati lembut
2. Penguasa ini memiliki aib yang semisal pula dengan istrinya

6. Milikilah hati yang lapang. Tidak perlu mengungkit kesalahan saudara kita di masa lalu. Inilah akhlak para Nabi. Nabi Yusuf tidak mengungkit kesalahan saudaranya di masa lalu. Nabi Yusuf memosisikan dirinya sebagai adik dari saudara-saudaranya.

Di akhir kisah Nabi Yusuf, seluruh keluarganya pun berkumpul kembali, diundang ke istana, dan bersujud pada Nabi Yusuf sebagai bentuk penghormatan. Bersujud pada manusia saat itu masih diperbolehkan sampai zaman Nabi Isa.

Seluruh peristiwa yang dialami Nabi Yusuf menjadi pengantar menuju takdir baik Nabi Yusuf, yaitu menjadi Nabi dan penguasa di negeri Mesir.

Inilah Nabi Yusuf, yang masuk penjara karena ketampanan wajahnya, dan dikeluarkan dari penjara karena ketampanan hatinya.
_______________________
📦 Infaq Kegiatan Ramadhan Bersama Al-Fatih
• Bank Syariah Mandiri
• No. Rek 7062270114 a.n. Al Fatih Pilar Peradaban, Yayasan
• Transfer dengan menambahkan kode unik #900 di belakang (mis: 1.000.900)

📞 Narahubung: 081320003460 (Abu Ibrahim)

📋 Kegiatan dan laporan keuangan dapat dilihat di website www.kuttabalfatih.com

🔈 Silakan sebarkan kiriman ini tanpa mengubah aslinya. Semoga bermanfaat dan menjadi amal jariyah. Jazaakumullah khairan.

📌Hadirilah kajian berikutnya:
Ahad, 5 Ramadhan/21 Juni 2015 pkl 8.30-12.00 di Kuttab Al-Fatih Depok, Jl. Lafran Pane Raya No. 100, Kelapa 2 (RTM), Cimanggis, Depok (Depan komplek Griya Tugu Asri).
Tema: "Dzulqornain, Potret Pemimpin Terbaik" oleh Ust. Budi Ashari, Lc.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar